Saturday, November 17, 2007

Old And Wise



Mungkin kita masih ingat ada sebuah reklame/ iklan yang berbunyi demikian: "Menjadi Tua itu Pasti; Menjadi Dewasa itu Pilihan". Sungguh menarik bukan, kalau kita mencermati iklan ini. Setiap manusia akan mengalami masa ketuaan. Namun belum tentu orang yang tua usianya adalah orang yang dewasa .Kalau orang ingin menjadi dewasa, itu adalah pilihan hidupnya dan harus ada usaha yang dilakukannya untuk menjadi dewasa. Salah satu ciri orang yang dewasa adalah hidupnya penuh dengan hikmat dan kebijaksanaan. Pemazmur pun menganggap penting hidup yang bijaksana. Karena itu dia minta kepada Tuhan supaya dia dimampukan untuk menghitung hari-hari yang dilaluinya agar dapat memperoleh hati yang bijaksana. Menghitung hari, bukan berarti kita menghitung secara harafiah hari-hari yang telah kita lalui. Menghitung hari artinya kita berusaha membuat hari-hari yang kita lalui bermakna dan belajar tentang hidup. Paulus dalam suratnya kepada jemaat Roma, mengajak untuk terus belajar dan memperbaiki diri hingga kita sungguh-sungguh mengenal kehendak Allah. Hal ini dia katakan dalam Roma 12:2: "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna."Inilah yang membedakan orang percaya dengan dunia ini, yaitu kedewasaan berpikir dan bertindak. Berubah oleh pembaharuan budi adalah sebuah proses menuju kedewasaan. Proses yang harus kita lewati tiap hari untuk senantiasa belajar memilih kehendak Allah dalam setiap pilihan hidup kita; belajar untuk siap menanggung resiko sebagai konsekuensi dari pilihan tersebut.Oleh karena itu mari kita belajar menghitung hari-hari agar kita menjadi orang yang semakin dewasa dalam iman dan kehidupan ini. Kita harus berubah dari hari-hari yang kita lalui di tahun yang lalu. Berubah menjadi dewasa dan mengenal kehendak Allah. Dan dalam menjalani proses perubahan ini kita tidak sendiri, ada Tuhan yang beserta kita.

Tuesday, November 6, 2007

Sacrifice



Pernahkan kita berkorban bagi orang lain. Mungkin sering, jarang atau bahkan tidak pernah sama sekali. Pengorbanan ? For what ? Memikirkan diri sendiri saja susah, apalagi harus peduli & berkorban untuk orang lain. Bagi kita semua pengorbanan hanya ada di film – film atau novel yang isinya membangkitkan semangat heroisme. Pengobanan hanya ada dalam khotbah khotbah pendeta yang sering kita dengar setiap hari Minggu. Pengorbanan hanya milik para tenaga kesehatan dan pendidik yang bertugas di pelosok nusantara. Pengorbanan hanya milik prajurit yang harus menunaikan tugas menjaga kedaulatan negara. Pengorbanan hanya milik para relawan yang bertugas membantu korban bencana alam.
So, sudah banyak orang mau berkorban buat orang lain, mengapa kita juga harus peduli ? Bayangkan kalau kita korban bencana alam, bayangkan kalau kita pengungsi perang, bayangkan kalau kita dilahirkan di tengah keluarga yang dihimpit kemiskinan dan membutuhkan pertolongan.
Berkorban hakekatnya bukan hanya untuk keluarga dan orang yang dikasihi. Berkorban merupakan suatu tindakan nyata bahwa kita care atau peduli kepada orang lain. Tidakkah kita ingat Tuhan Yesus telah memberikan contoh & teladan nyata kepada kita bahwa Dia rela mati dikayu salib untuk menebus dosa seluruh umat manusia ? Bukan hanya dosa murid – muridNya, bukan hanya dosa para pengikutNya, dan bukan hanya dosa orang yang percaya kepadaNya. Namun pengorbanan & penebusanNya juga diperuntukkan bagi dosa – dosa orang yang membenci, memusuhi & menyalibNya. Sulit bagi kita untuk melakukan apa yang dilakukan Tuhan Yesus. Namun bukan berarti sulit juga untuk melakukan pengorbanan – pengorbanan ” kecil ” dalam kehidupan kita. Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk ” berkorban ” bagi orang lain. Menyisihkan sebagian kecil uang kita dan kita donasikan bagi yang membutuhkan. Mungkin dapat kita mulai hari ini : mengurangi jadwal makan di Mc Donald, Pizza Hut atau kesenangan yang lain.
Well, Rp, 10.000 seminggu, Rp. 40.000 per bulan, Rp. 480.000 per tahun, jumlah yang lumayan besar bukan ? Itu baru 1 orang, bagaimana kalau 10 orang, 100 orang atau bahkan 1000 orang ?
Mari kita ubah dunia mulai dari diri kita sendiri, bukankah dunia akan lebih indah apabila setiap orang mau berkorban dan peduli satu dengan yang lain ?